Semesta14

Karena Dunia Tak Hanya Yang Terlihat

Alur peristiwa perang dunia II Maret 23, 2010

Filed under: sejarah jepang — Tangguh Alamsyah @ 2:37 am

1941

7 desember 1941- pasukan Jepang mengebom pangkalan militer di Pearl Harbor, Hawaii; juga menyerang Malaysia Thailand, dan kepulauan Midway

8 desember 1941 – A.S dan Inggris mengumumkan perang terhadap Jepang. Pasukan Jepang menarat di dekat Singapura dan memasuki Thailand.

9 Desember 1941- China mengumumkan perang terhadap Jepang.

10 Desember 1941 – Jepang menyerangFilipina dan Kepulauan Guam.

11 Desember 1941 – Jepang menyerang Burma.

16 Desember 1941- Jepang menyerang Borneo (Inggris)

18 Desember 1941- Jepang menyerang Luzon di Filipina.

23 Desember 1941 – Jendral Doughlas MacArthur mundur dari Manila menuju Baltan; Jepang mengambil alih pulau Wake.

25 Desember 1941 – Inggris menyerahkan di Hongkong.

26 Desember 1941 – Manila membuka kotanya bagi Jepang.

27 Desember 1941 – Jepang mengebom Manila.

2 Januari 1942 – Manila dan pangkalan angkatan laut A.S. di Cavite direbut oleh Jepang.

7 Januari 1942 –  Jepang menyerang Batan di Filipina

11 Januari 1942 – Jepang menyerang Hindia India Timur dan Borneo (Belanda)

16 Januari 1942 – Jepang memulai penyusuapan terhadap Burma

18 Januari 1942 – Jerman-Jepang-Italia menandatangani pejanjian kerjasama militer di Berlin.

19 Januari 1942 – Jepang mengambil alih Borneo Utara.

23 Januari 1942 Jepang merebut Rabaul dari Inggris di kepulauan Solomon dan juga menyerang Bougenville, pulau utamanya.

27 Januari 1942 – pertama kalinya kapal perang Jepang dikaramkan oleh kapal selam A.S.

30-31 Januari 1942 – Inggris mundur ke Singapura. Memulai pemusatan kekuatan di Singapura.

1 Febuari 1942 – pesawat tempurAmerika membombardir pangkalan Jepang di pulau Gilbert dan pulau Marshall.

2 Febuari 1942 –  Jepang menyerang Jawa di Hindia Belanda Timur.

8-9 Febuari 1941 – Jepang menyerang Singapura.

14 Febuari 1942 – Jepang  menyerang Sumatera di Hindia Belanda Timur.

15 Febuari 1942 – Inggris menyerah di Singapura.

19 Febuari 1942 – Serangan udara Jepang terbesar yang melebihi Pearl Harbour menyerang Darwin, Australia; Jepang menyerang Bali.

22 Febuari 1942 – Presiden Franklin D. Roosevelt memerintahkan Jenderal MacArthur meninggalkan Filipina.

23 Febuari 1942 – serangan Jepang pertama terhadap pulau utama A.S. kapal selam Jepang menyerang penyulingan minyak di Santa Barbara, California.

24 Febuari 1942 – kapal induk A.S., Enterprise, menyerang Jepang di pulau Wake.

26 Febuari 1942 – kapal induk A.S., Langley, karam oleh pasukan pengebom tentara Jepang.

27 Febuari – 1 Maret 1942 – kemenangan angkatan laut Jepang dalam pertempuran di Laut Jawa. Kapal perang A.S.  terbesar, Houston, Karam.

7 Maret 1942 – Jepang menyerang Salamaua dan Lae di Papua Nugini.

8 Maret 1942 – Belanda di Jawa menyerah kepada Jepang.

23 Maret 1942 – Jepang menyerang kepulauan Andaman di Teluk Bengal.

3 April 1942 – Jepang menyerang A.S dan pasukan Filipina di Batan .

6 April 1942 – pasukan A.S. pertama tiba di Australia.

9 April 1942 – Pasukan A.S di Bataan menyerah tanpa syarat kepada Jepang.

10 April 1942 – Bataan Death March dimulai ketika 76.000 tentara Sekutu yang ditawan, termasuk 12.000 tentara Amerika, dipaksa untuk berjalan sejauh 60 mil dibawah sengatan matahari tanpa makanan dan minuman menuju kamp tawanan, akibatnya lebih dari 5.000 tentara Amerika tewas.

18 April 1942 – serangan tiba-tiba pesawat B-25 Amerika “Doolittle” menyerang Tokyo dan meningkatkan moral tentara sekutu.

29 April 1942 – Jepang mengambil alih Burma Tengah.

1 Mei 1942 – Jepang Menduduki Mandalay di Burma.

3 Mei 1942 – Jepang merebut Tulagi di Kepulauan Solomon.

5 Mei 1942 – Jepang bersiap untuk menyerang Midway dan pulau Aleutian.

7-8 Mei 1942 – Jepang mengalami kekalahan pertama kalinya dalam perang di Coral Sea, lapas pantai Papua Nugini – pertama kalinya dalam sejarah bahwa kedua kapal induk hanya menggunakan pesawat tanpa melakukan penyerangan dengan kapal laut.

12 Mei 1942 –  Pasukan A.S. terakhir di Filipina menyerah di Mindanao.

20  Mei 1942 – Jepang sepenuhnya merebut Burma dan mencapai India.

4-5 Juni 1942 – kemenangan besar Pasukan A.S dalam pertempuran Midway. Titik balik dari kemenangan.

7 Juni 1942 – Jepang menyerang kepulauan Aleutian.

9 Juni 1942 – Jepang melakukan serangan balasan untuk merebut Midway.

21 Juni 1942 – Jepang menurunkan pasukan di dekat Gona, Papua Nugini.

7  Agustus 1942 – pasukan amfibi A.S. yang pertama mendarat di Tlagi dan Guadalanal di kepulauan Solomon.

8 Agustus 1942 – Angkatan laut A.S. merebut lapangan terbang yang terbengkalai di Guadalcanal dan menamainya Lapangan Henderson, dari Mayor Lofton Henderson, pahlawan Midway.

8-9 Agustus – kekalahan besar angkatan laut A.S di Pulau Savo, utara Guadalcanal. Delapan kapal perang Jepang melakukan penyerangan pada malam hari  dan mengaramkan tiga kapal penghancur A.S., satu kapal penghancur Australia, dan satu kapal penjelajah A.S, dalam waktu kurang dari satu jam.

24 Agustus 1942 – kapal induk A.S. dan JEpang betemu dlama pertempuran di Solomon Timur, Jepang kalah.

30 Agustus 1942 – Pasukan Amerika menyerang Pulau Adak di kepulauan Aleutian.

12-14 September 1942 – pertempuran Lepas Pantai Berdarah di Guadalnacal.

11-12 Oktober 1942 – Kapal penghancur dan kapal penjelajah Amerika mengalahkan pasukan Jepang di Pertempuran Teluk Esperance di Guadalcanal.

23-24 November 1942 – Pasukan udara Jepang membombardir Darwin, Australia.

20-24 Desember 1942 – pasukan udara Jepang membombardir Calcuta, India.

31 Desember 1942 – Kaisar Hirohito memerintahkan pasukannya untuk mundur dari Guadalcanal setelah lima bulan bertempur hebat dengan pasukan A.S.

2 Januari 1943 – Sekutu merebut Buna di Papua Nugini.

22 Januari 1943 – sekutu mengalahkan JEpang di Sanananda, Papua Nugini.

8 Febuari 1943 – Inggris- India memulai operasi geriliya melawan Jepang di Burma.

2-4 Maret 1943 – A.S memenangkan pertempuran terhadap Jepang di LAut Bismarck.

10 Mei 1943 – Pasukan Sekutu menyerang Attu di kepulauan Aleutian.

31 Mei 1943 – Jepang mengakhiri pendudukannya di kepulauan Aleutian setelah A.S sepenuhnya merebut Attu.

6-7  Agustus 1943 – peretmpuran Teluk Vella di kepulauan Solomon.

4 September 1943 – Sekutu merebut kembali Lae-Salamaua, Papua Nugini.

26 Oktober 1943 – Kaisar Hrohito menyebut situasai negerinya “benar-benar terpuruk”

1 November 1943 – Angkatan laut A.S menyerang Bouganville di Kepulauan Solomon.

9 Januari 1944 – Tentara Inggris dan India merebut kembali Maungdaw di Burma.

31 Januari 1944 – pasukan Amerika menyerang Kwajalein di Kepulauan Marshall.

1-7 Febuari 1944 – pasukan Amerika merebut Kwajalein dan Majura Atolls di kepulauan Marshal.

17-18 Febuari 1944 – pesawat tempur A.S. menghancurkan pangkalan angkatan laut Jepang di Truk di Kepulauan Carroline.

17 April 1944 – jepang melakukan serangan terakhirnya terhadap China, menyerang pangkalan udara A.S di China selatan.

27 Mei 1944 Sekutu menyerang Pulau Biak, Papua Nugini.

15 Juni 1944 – angkatan laut A.S. menyerang Saipan di Kepulauan Mariana.

15-16 Juni 1944 – serangan udara Sekutu dengan menggunakan 47 buah pesawat B-29, targetnya adalah pabrik baja di Yawata.

19 Juni 1944 – “Marianas Turkey Shoot” yang dilakukan oelh PEsawat Induk-tempur A.S menembak Jatuh 220 pesawat Jepang.

8 Agustus 1944 – Pasukan Amerika merebut sepenuhnya Kepulauan Mariana.

11 Oktober 1944 – Amerika membombardir Okinawa.

18 Oktober 1944 – 14 pesawat B-29 yang berpangkalan di Mariana menyerang pangkalan Jepang di Truk.

20 Oktober 1944 – Skuadron 6 A.S menyerang Leyte di Filipina.

23-26 Oktober 1944 – pertempuran Teluk Leyte menghasilkan kemenangan besar angkatan Laut A.S.

25 Oktober 1944 – serangan bunuh diri udara (Kamikaze) menyerang kapal perang A.S. di Teluk Leyte. Hingga akhir perang, Jepang telah mengirimkan kira-kira 2.257 pesawat. Admiral Halsey mengatakan “Satu-satunya senjata yang saya takuti dalam perang”.

11 November 1944 – Iwo Jima dibombardir oleh angkatan laut A.S.

15 Desember 1944 – Pasukan A.S. mengebom pabrik pesawat terbang Nakajima dekat Tokyo.

17 DEsember 1944 – Pasukan Udara A.S memulai persiapan untuk menjatuhkan Bom Atom, pasukan gabungan ke-59 dibentuk untuk membawa B-29 yang akan digunakan untuk membawa bom.

9 Januari 1945 – Pasukan ke-6 A.S. menyerang Teluk Lingayen di Filipina.

11 Januari 1945 – serangan udara terhadap pangkalan Jepang di Indochina.

3 Febuari 1945 – Tentara Amerika menyerang Jepang di Manila.

16 Febuari 1945 – Pasukan Amerika merebut kembali Batan di Filipina.

19 Febuari 1945 – Angkatan laut A.S. menyerang Iwo Jima.

2 Maret 1945 – Pasukan Udara A.S. merebut kembali Corregidor di Filipina.

3 Maret 1945 – Pasukan A.S. dan Filipina merebut Manila.

9-10 Maret 1945 – 15 mil persegi kota Tokyo terbakar habis setelah di bom oleh 279 pesawat B-29.

27 Maret 1945 – pesawat B-29 menjatuhkan ranjau di sepajang Shimonoseki untuk mencegah penyuplaian kapal.

1 April 1945 – Pasukan Amfibi skuadron 10 A.S. mendarat dan menyerang Okinawa.

20 Maei 1945 – Jepang mulai mundur dari China.

9 Juni 1945 – Perdana menteri Jepang, Suzuki, mengumumkan bahwa Jepang akan bertempur hingga akhir, dari pada menerima penyerahan tanpa syarat.

18 Juni 1945 – Perlawanan Jepang di Mindanao, Filipina, berakhir.

22 Juni 1945 – Perlawanan Jepang di Okinawa berakhir setelah skuadron ke-10 A.S. merebutnya.

28 Juni 1945 – perlawanan Jepang di seluruh Filipina berakhir.

5 Juli 1945 – Kemerdekaan Filipina di deklarasikan.

10 Juli 1945 – 1000 serangan udara terhadap Jepang dimulai.

14 Juli 1945 – Pasukan Angkatan laut A.S. pertama kalinya membombardir pulau-pulau utama Jepang

16 Juli 1945 – bom atom pertama kalinya berhasil diuji coba di A.S.

26 Juli 1945 – Komponen-komponen dari bom atom “Little Boy” di kirimkan ke Pulau Tinian di Pasifik

6 Agustus 1945 – Bom Atom pertama dijatuhkan di Hiroshima dari pesawat B-29.

8 Agustus 1945 – Uni Soviet menyatakan perang terhadap Jepang dan menginvasi Manchuria.

9 Agustus 1945 – Bom Atom kedua dijatuhkan di Nagasaki dari pesawat B-29. KAisar Hirohito dan perdana menteri Suzuki memutuskan untuk mencari perdamaian secepatnya dengan Sekutu.

14 Agustus 1945 – Jepang menyerah tanpa syarat; Jenderal MacArthur menjadim kepala Pendududkan Jepang.

29 Agustus 1945 – Pasukan A.S mendarat di dekat Tokyo untuk memulai pendudukan di Jepang.

30 Agustus 1945 – Inggris mendapatkan Hongkong kembali.

2 September 1945 – upacara penyerahan Jepang secara resmi di atas kapal MISOURI di teluk Tokyo.

4 September 1945 – Pasukan Jepang di Pulau Wake menyerah.

5 September 1945 – Inggris mendarat di Singapura.

8 September 1945 MacArthur memasuki Tokyo.

9 September 1945 – Tentara Jepang di Korea menyerah.

13 September 1945 – Tentara Jepang di Burma menyerah.

24 Oktober 1945 – PBB dibentuk.

 

sejarah singkat Jepang Februari 22, 2010

Filed under: sejarah jepang — Tangguh Alamsyah @ 6:20 am

Periode Jomon & Yayoi

Selama Periode Jomon (13000 SM – 300 SM), pola hidup penduduk kepulauan Jepang adalah mengumpulkan makanan, mengambil ikan, dan berburu. Jomon adalah nama dari satu pola gerabah yang dibuat pada masa itu.

Pada Periode Yayoi (300 SM – 300 M), kebudayaan bercocok tanam padi telah diimpor ke Jepang pada sekitar tahun 100 M. Dengan diperkenalkannya bercocok tanam, kelas sosial mulai berkembang, dan daerah-daerah mulai bergabung dibawah kepemimpinan pemilik tanah yang berkuasa. Pengelana dari Cina pada masa dinasti Han dan Wei melaporkan bahwa seorang ratu yang bernama Himiko (atau Pimiku) memerintah Jepang pada masa itu. Pada Periode Yayoi juga mulai diperkenalkan besi dan kebudayaan modern lain yang dibawa dari Korea ke Jepang. Sekali lagi, penamaan Periode didasarkan pada sebuah pola gerabah yang bekembang pada masa itu.

Pada permulaan periode Kofun (300 – 538), pusat kekuatan dibangun di Dataran Kinai yang subur. Dan pada sekitar tahun 400, negeri jepang bersatu dibawah nama Yamato, Jepang dengan pusat politiknya berada disekitar propinsi Yamato dan sekitarnya (sekarang perefektur Nara). Penamaan periode didasarkan pada kuburan besar (kofun) yang dibangun untuk pemimpin politik pada masa itu. Yamato Jepang terbentang dari Kyushu hingga Dataran Kinai, namun tidak mencakup Kanto, Tohoku, dan Hokkaido.

Oleh karena hubungan persahabatan dengan kerajaan Kudara (atau Paikche) di semenanjung Korea, pengaruh dari Cina Daratan meningkat pesat. Agama Buddha diperkenalkan ke Jepang pada tahun 538 atau 552 dan disebarkan oleh golongan penguasa. Pangeran Shotoku disebut-sebut memegang peranan penting dalam penyebaran ide-ide dari Cina. Dia juga menulis Tujuh Belas Pasal Peraturan mengenai aturan moral dan politik. Juga teori-teori Konfusianisme dan Taoisme, sistem menulis Cina juga diperkenalkan ke Jepang pada Periode Yamato.

Tahun 645, Nakatomi No Kamatari memulai era Keluarga Fujiwara yang bertahan hingga lahirnya kelas militer (samurai) pada abad ke-11. pada tahun yang sama, Reformasi Taika direalisasikan. Sisem pemerintahan dan administrasi yang baru dikembangkan mengikuti model Cina. Semua kepemilikan tanah diambil oleh negara dan didistribusikan kembali secara merata kepada petani dalam rangka memperkenalkan sistem pajak yang baru, yang juga diadopsi dari Cina.

Periode Nara & Heian

Pada tahun 710, ibukota Jepang yang pertama dibangun di Nara, sebuah kota yang mengikuti model ibukota Cina. Kuil-kuil Buddha yang besar dibangun di ibukota baru tersebut. Kuil-kuil dengan cepat memperoleh pengaruh politik yang kuat, yang berfungsi untuk menjaga kedudukan kaisar dan pemerintah pusat. Ibukota dipindahkan ke Nagaoka pada tahun 784, sebelum akhirnya di pindahkan ke Heian (Kyoto) pada tahun 794 yang terus bertahan hingga lebih dari seribu tahun.

Salah satu karakteristik dari Periode Nara dan Heian adalah pengubahbentukan secara besar-besaran pengaruh-pengaruh Cina, yang bagaimana pun, bertambah kuat. Banyak kebudayaan impor “di-Jepang-kan”. Bertujuan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan orang Jepang, beberapa kantor pemerintahan dibangun dengan mengikuti model Cina, sebagai contoh. Dalam kesenian pun, hasil kebudayaan asli Jepang dengan cepat menjadi populer. Penemuan huruf Kana membuat sastra Jepang asli menjadi mungkin untuk dibuat. Beberapa sekte Buddha yang dibawa dari Cina selama Periode Heian, juga “di-Jepang-kan”

Ditengah kesalahan terburuk Reformasi Taika mengenai masalah tanah dan pajak: pajak yang tinggi membuat banyak petani menjual tanahnya dan menjadi penyewa pada pemilik tanah yang lebih besar. Kemudian, banyak bangsawan dan biarawan yang berhasil memperoleh kekebalan atas pajak. Sebagai hasilnya, pendapatan negara berkurang, dan selama berabad-abad, kekuatan politik secara bertahap mulai berpindah dari pemerintah pusat kepada pemilik tanah besar yang independen.

Keluarga Fujiwara memegang kendali politik selama periode Heian selama beberapa abad melalui stategi pernikahan dengan keluarga kerajaan dan dengan menduduki semua posisi politik yang penting di Kyoto dan propinsi-propinsi utama. Kekuasaan keluarga tersebut mencapai puncaknya di tangan Fujiwara Michinaga tahun 1016. setelah Michinaga, bagaimana pun, kemampuan kepemimpinan Fujiwara mulai menurun, dan kekuasaan publik tak dapat dipertahankan. Banyak pemilik tanah menyewa samurai untuk melindungi hak miliknya. Itulah sebabnya kelas militer menjadi sangat berpengaruh, khususnya di wilayah Jepang timur.

Kekuasaan Fujiwara berakhir pada tahun 1068 ketika kaisar yang baru, Go-Sanjo memutuskan untuk memerintah negara secara langsung, dan Fujiwara gagal mengendalikannya. Tahun 1086 Go-Sanjo turun tahta namun tetap melanjutkan memerintah dari balik panggung politik. Bentuk pemerintahan baru tersebut dinamakan Pemerintahan Insei. Kaisar memegang kekuasaan politik dari tahun 1086 hingga 1156 ketika Taira Kiyomori menjadi penguasa baru Jepang.

Abad ke-12, dua keluarga militer yang memiliki latar belakang kebangsawanan memperoleh banyak kekuatan. Keluarga Minamoto (atau Genji) dan Keluarga Taira (atau Heike). Taira menggantikan banyak bangsawan dari Fujiwara dalam posisi-posisi penting, sementara Minamoto memperoleh pengalaman militer dengan membuat Honsu Utara menjadi bagian Jepang dalam Perang Awal Sembilan Tahun (1050 – 1059) dan Perang Akhir Tiga Tahun (1083 – 1087).

Setelah Kebangkitan Heiji (1159), persaingan kekuasaan antara dua keluarga, Taira dan Kiyomori berkembang menjadi penguasa Jepang dan memerintah negara melalui kaisar. Ancaman utama bukan hanya dari keluarga Minamoto tetapi juga dari kuil Buddha yang militan yang secara berkala mengadakan perang antara satu sama lain dan menganggu ketentraman umum.

Setelah kematian Kiyomori, keluarga Taira dan Minamoto bertarung untuk menentukan pemegang kekuasaan, Perang Gempei, yang terjadi dari tahun 1180 hingga 1185. Di akhir perang, Minamoto berhasil mengakhiri kekuasaan Taira, dan Minamoto Yoritomo menjadi pemimpin Jepang. Setelah menaklukan seluruh musuh potensial dan musuh berbahayanya, termasuk anggota terdekat, tahun 1192 Yoritomo diangkat menjadi Shogun (pemimpin militer tertinggi) dan membentuk pemerintahan baru di kampung halamannya di Kamakura.

Bakufu Kamakura

Pemerintahan Bakufu Kamakura yang dibentuk oleh Minamoto Yoritomo merupakan bentuk pemerintahan baru yang jauh lebih sederhana dibandingkan yang berada di Kyoto dan jauh lebih efisien disesuaikan dengan kebutuhan Jepang.

Setelah kematian Yoritomo, perebutan kekuasaan terjadi antara Bakufu yang berada di Kamakura dengan Kekaisaran di Kyoto. Perebutan kekuasaan itu berakhir setelah terjadi Gangguan Jokyu pada tahun 1221 ketika Kamakura mengalahkan tentara kekaisaran di Kyoto, dan keturunan Hojo di Kamakura memperoleh kuasa penuh atas Jepang. Dengan membagikan kembali tanah-tanah yang direbut selama Gangguan Jokyu, mereka berhasil memperoleh kesetiaan orang-orang diseluruh negeri. Kaisar dan kantor pemerintahan yang tersisa di Kyoto secara praktis kehilangan seluruh kekuasaannya.

Kebudayaan Cina masuk relatif kuat selama periode Kamakura. Sekte Buddha yang baru diperkenalkan: sekte Zen (1191) memperoleh banyak pengikut dari golongan samurai, yang sekarang termasuk dalam golongan sosial tingkat atas. Sekte Buddha lainnya adalah sekte Lotus Sutra yang radikal dan intoleran ditemukan tahun 1253 oleh Nichiren.

Tahun 1232 sebuah perangkat hukum, Joei Shikimoku di umumkan. Menitikberatkan pada nilai-nilai Konfusius seperti setia pada majikan, dan menjaga moral serta disiplin. Pengawasan ketat dilakukan oleh keluarga Hojo, setiap tanda pemberontakan ditumpas dengan segera.

Shogun tinggal di Kamakura tanpa kekuatan yang berarti sementara wakilnya berada di Kyoto dan Jepang barat. Vasal-vasal memerintah propinsi secara ketat dan setia. Benar bahwa keturunan Hojo membawa beberapa dekade keamanan dan pengawasan ekonomi pada Jepang hingga kekuatan dari negara lain mulai mengancam Jepang.

Tahun 1259, Bangsa Mongol telah menaklukan Cina dan tertarik untuk menaklukan Jepang pula. Beberapa pesan ancaman mengenai betapa mengerikannya kekuatan Mongol, tidak digubris oleh Kamakura. Ini menyebabkan Mongol memulai Invasinya tahun 1274 ke pulau Kyushu. Setelah hanya bertempur beberapa jam, armada laut raksasa yang berlayar, dipaksa untuk mundur karena kondisi cuaca yang buruk. Ini sangat menguntungkan pihak Jepang karena ketidaksiapan mereka dalam menghadapi pasukan Mongol yang besar dan modern.

Oleh karena persiapan yang baik, orang Jepang berhasil membentuk pertahanan yang kuat untuk beberapa minggu selama invasi Mongol yang kedua yang terjadi pada tahun 1281. namun sekali lagi, Pasukan Mongol dipaksa untuk mundur karena kondisi cuaca yang buruk. Kyushu kemudian mulai bersiap-siap pada kemungkinan akan adanya invasi ketiga, namun ternyata bangsa Mongol mengalami banyak persoalan yang harus diselesaikan di Cina-daratan dibandingkan harus memedulikan Jepang.

Konsekuensi dari banyaknya waktu yang dihabiskan untuk persiapan menghadapi bangsa Mongol ternyata sangat fatal bagi pamerintahan Kamakura, mereka mengeluarkan anggaran tanpa penghasilan. Banyak orang-orang setia yang berjuang untuk Kamakura, kini meminta balas jasa kepada pemerintah yang tidak sanggup membayar. Oleh karena itu, masalah keuangan dan menurunnya kesetiaan diantara tuan tanah yang berkuasa adalah beberapa alasan kejatuhan pemerintahan Kamakura.

Tahun 1333 kekuatan keturunan Hojo telah berkurang hingga Kaisar Go-Daigo dapat mengembalikan kekuatan kekaisaran dan membubarkan Bakufu Kamakura.

Bakufu Muromachi

Kaisar Go-Daigo telah berhasil mengembalikan kekuatan istana di Kyoto dan membubarkan Bakufu Kamakura pada tahun 1333. Namun, pemulihan kantor kekaisaran dibawah Restorasi Kemmu (1334) tidak bertahan lama karena sistem administrasi yang lama ketinggalan zaman dan tidak praktis. Kemudian, pejabat-pejabat yang tidak cakap gagal memperoleh dukungan dari tuan tanah yang berkuasa.

Ashikaga Takauji, yang sebelumnya berjuang untuk kaisar, kini menentang istana kekaisaran dan berhasil merebut Kyoto pada tahun 1336. Go-Daigo, akibatnya, melarikan diri ke Yoshino di selatan Kyoto yang kemudian mendirikan Istana Selatan. Pada saat yang sama, kaisar-yang-baru naik tahta di Kyoto. Hal ini menjadi mungkin karena garis penerus tahta kekaisaran bercabang dua sejak kematian kaisar Go-Saga pada tahun 1272.

Tahun 1338 Takauji mengangkat dirinya sendiri menjadi Shogun dan membentuk pemerintahan di Kyoto. Distrik Muromachi dimana terdapat bangunan pemerintahan sejak 1378 merupakan asal mula dari penamaan periode dan pemerintahan.

Dua istana tersebut bertahan hingga lebih dari 50 tahun: Istana Utara dan Istana Selatan. Mereka saling berperang satu sama lain. Istana Utara biasanya selalu pada posisi yang lebih menguntungkan; namun bagaimanapun, Istana Selatan berhasil merebut Kyoto beberapa kali untuk waktu yang singkat. Istana Selatan akhirnya berhasil merebut kyoto pada tahun 1392, dan Jepang menjadi bersatu lagi dibawah pemerintahan kaisar.

Dalam masa pemerintahan Ashikaga Yoshimitsu (1368-1408), Bakufu Muromachi berhasil mengendalikan propinsi-propinsi di Jepang pusat, namun secara berkala kehilangan pengaruhnya di wilayah pinggiran. Yoshimitsu menjalin hubungan dagang yang baik dengan dinasti Ming , Cina. Produksi domestik juga meningkat berkat adanya perbaikan sistem bercocok tanam dan pembudidayaan tanaman. Perubahan ekonomi ini menghasilkan peningkatan pasar, beberapa kota dan kelas sosial yang baru.

Selama abad 15 dan abad 16, pengaruh Shogun Ashikaga dan pemerintahan di Kyoto pada kenyataannya tak berarti banyak. Penguasa politik pada periode Muromachi adalah para pemilik tanah, keluarga militer (samurai). Penguasa feodal yang baru ini disebut Daimyo. Mereka melakukan penguasaan secara nyata pada sisi lain Jepang, dan secara terus menerus berperang satu sama lain selama beberapa dekade dalam masa perang saudara (Sengoku Jidai) yang kompleks. Beberapa nama dari tuan tanah yang terkuat adalah Takeda, Uesugi, dan Hojo di timur, kemudian Ouchi, Hosokawa, dan Mori di bagian barat.

Tahun 1542 pedagang-pedagang Portugis dan misionaris Yesuit tiba pertama kali di Kyushu, mereka memperkenalkan senjata api dan agama Kristen ke Jepang. Yesuit Francis Xavier melakukan misi penyebaran ke kyoto tahun 1549-1550. Walaupun ajaran Kristen bertentangan dengan ajaran Buddha, kebanyakan tuan tanah bagian barat menerima agama Kristen karena dengan mengadakan perdagangan senjata dengan bangsa asing akan meningkatkan kemampuan militer.

Pertengahan abad ke-16, beberapa penguasa tanah yang terkuat berlomba-lomba untuk mengambil kekuasaan terhadap seluruh Jepang. Salah satunya adalah Oda Nobunaga. Dia mengambil satu langkah besar dalam penyatuan Jepang dengan menaklukan Kyoto tahun 1568 dan menjatuhkan Bakufu Muromachi tahun 1573.

Bakufu Azuchi-Momoyama

Setelah mendapatkan Kyoto, Nobunaga meneruskan usahanya untuk menumpas semua musuh-musuhnya. Salah satunya adalah sekte Buddha yang militan, terutama sekte Ikko (sekte Tanah Suci) yang telah menjadi sangat kuat di beberapa propinsi. Nobunaga menghancurkan Kuil Enryakuji di pinggiran Kyoto hingga rata dengan tanah tahun 1571. Perjuangannya untuk menumpas sekte Ikko berlanjut hingga tahun 1580.

Beruntung bagi Oda Nobunaga, dua musuhnya yang paling berbahaya dari daerah timur: Takeda Shigen da Uesugi Kenshin. Keduanya meninggal sebelum sempat berperang dengan Nobunaga. Setelah kematian Shigen, Nobunaga mengalahkan keluarga Takeda dalam pertempuran Nagashino (1575), menggunakan alat perang modern.

Tahun 1582, Jenderal Akechi membunuh Nobunaga dan menduduki istana Azuchi milik Nobunaga. Toyotomi, seorang jenderal yang setia pada Nobunaga, bertindak sangat cepat, mengalahkan Akechi, dan mengambil alih kekuasaan. Hideyoshi melanjutkan perjuangan Nobunaga menumpas musuh-musuh yang tersisa. Dia menaklukan propinsi-propinsi bagian utara dan Shikoku tahun 1583, kemudian Kyushu tahun 1587. setelah mengalahkan keluaga Hojo di Odawara tahun 1590, Jepang akhirnya berhasil disatukan.

Untuk membuat Jepang berada dalam kendali mutlak, Hideyoshi menghancurkan banyak istana yang dibangun di seluruh negeri selama masa perang saudara. Tahun 1588 dia melucuti senjata dari para petani dan lembaga keagamaan dalam “Perburuan Pedang”.

Dia melarang samurai untuk aktif sebagai petani dan memaksa mereka untuk pindah ke kota istana. Pebedaan yang jelas antara kelas-kelas sosial meningkatkan kendali pemerintahan untuk melakukan pengawasan terhadap orang-orang. Pada hasilnya, survei tanah dimulai tahun 1583, dan sensus dilakukan pada tahun 1590. Pada tahun yang sama, istana besar milik Hideyoshi, Istana Osaka, selesai dibangun.

Tahun 1587, Hideyoshi mengeluarkan perintah kepada misionaris Kristen agar meninggalkan Jepang. Namun kenyataannya, para Franciscan berhasil masuk ke Jepang pada tahun 1593 dan Yesuit tetap aktif di Jepang Barat. Tahun 1597 Hideyoshi secara intensif mengawasi misionaris Kristen, menolak untuk berdiskusi, dan mengeksekusi 26 Franciscan sebagai peringatan. Agama Kristen dianggap menghalangi langkah Hideyoshi untuk mendapatkan kendali menyeluruh terhadap masyarakat; lagi pula, banyak pendeta Yesuit dan Franciscan yang bertindak agresif dan intoleran terhadap lembaga Shinto dan Buddha.

Setelah menyatukan negeri, Hideyoshi bermaksud untuk mewujudkan impian super gilanya untuk menaklukan Cina. Tahun 1592, tentaranya memasuki Korea dan menduduki Seoul dalam beberapa minggu; namun, pasukan Hideyoshi dipaksa mundur kembali oleh tentara Cina dan Korea pada tahun berikutnya. Hideyoshi secara keras kepala menolak untuk menyerah hingga evakuasi terakhir dari Korea tahun 1598, tahun yang sama pula Hideyoshi meninggal.

Tokugawa Ieyasu, yang merupakan rekan yang sangat berbakat dari Hideyoshi dan Nobunaga, menggantikan Hideyoshi sebagai orang yang paling berkuasa di Jepang.

Bakufu Tokugawa

Tokugawa Ieyasu adalah orang terkuat di Jepang setelah Hideyoshi meninggal tahun 1598. Berlawanan dengan janjinya, Ieyasu tidak mengakui Hideyori sebagai pengganti Hideyoshi kerena Ieyasu ingin menjadi penguasa mutlak atas Jepang.

Dalam Pertempuran Sekigahara tahun 1600, Ieyasu mengalahkan orang-orang yang setia pada Hideyori dan rival dari Jepang barat lainnya. Oleh karena itu, dia memperoleh kekuasaan dan kekayaan yang tak terbatas. Tahun 1603, Ieyasu diangkat menjadi Shogun oleh Kaisar dan mendirikan pemerintahannya di Edo. Keshogunan Tokugawa memerintah Jepang selama 250 tahun.

Ieyasu memerintah seluruh Jepang secara ketat. Dia dengan cerdik membagikan kembali tanah yang didapatkannya kepada para Daimyo; vasal-vasal yang paling setia (yang sudah membantu dia sejak sebelum Sekigahara) secara strategis mendapatkan daerah yang lebih penting. Setiap Daimyo juga berkewajiban untuk menghabiskan beberapa tahun sekali di Edo. Ini merupakan beban ekonomi yang besar bagi Daimyo dan mengurangi kekuatannya di daerah asal.

Ieyasu melanjutkan perdagangannya dengan bangsa asing. Dia menjalin hubungan dengan Inggris dan Belanda. Namun di lain pihak, dia melakukan penindasan dan pengawasan terhadap agama Kristen sejak 1614.

Setelah kehancuran keluarga Toyotomi pada tahun 1615 ketika Istana Osaka di ambil alih, Ieyasu dan penerusnya secara praktis tidak memiliki rival lagi, dan kedamaian terpelihara selama periode Edo. Karena itu, para prajurit (samurai) melatih diri mereka sendiri tidak hanya dalam bidang bela diri tapi juga dalam sastra, filsafat, dan seni, contohnya: upacara minum teh.

Tahun 1633, Shogun Iemitsu melarang perjalanan ke luar negeri dan hampir sepenuhnya mengisolasi Jepang pada tahun 1639 dengan mengurangi kontak dengan dunia luar dengan cara menjalin hubungan dagang yang amat terbatas dengan Cina dan Belanda di pelabuhan Nagasaki. Sebagai tambahan, semua buku asing dilarang.

Karena isolasi yang dilakukan, perdagangan domestik dan produksi pangan meningkat. Selama periode Edo, khususnya selama masa Genroku (1688-1703), kebudayaan populer berkembang. Jenis-jenis kesenian baru seperti Kabuki dan Ukiyo-E menjadi amat terkenal diantara orang kota.

Ajaran yang paling penting dalam masa Tokugawa adalah Neo-Konfisius, yang menekankan pada pentingnya moral, pendidikan, dan hubungan kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat: sistem empat kelas yang ketat berlaku selama periode Edo: pada tingkatan teratas adalah samurai, diikuti oleh petani, tukang, dan pedagang. Anggota keempat kelas tersebut dilarang untuk mengganti status sosial meraka. Kelas pembuangan (eta), orang-orang yang pekerjaannya dianggap hina, membentuk kelas kelima.

Tahun 1720, larangan terhadap buku Barat dicabut, beberapa ilmu masuk ke Jepang dari Cina dan Eropa (Belanda). Sekolah nasionalis yang menggabungkan unsur Shinto dan Konfisius juga dibangun.

Meskipun pemerintahan Tokugawa berhasil menjaga kestabilan negara selama beberapa abad, posisinya secara bertahap melemah karena beberapa hal: situasi keuangan yang terus memburuk membuat pemerintah menaikan pajak dan menyebabkan unjuk rasa diantara petani. Ditambah oleh Jepang secara berkala mengalami bencana alam dan untuk beberapa tahun mengalami kelaparan yang menyebabkan unjuk rasa, kemudian lebih lanjut terjadi masalah keuangan pada pemerintahan pusat dan Daimyo. Sistem sosial mulai kacau saat kelas pedagang menjadi lebih kuat sementara kaum samurai secara finansial menjadi tergantung pada mereka. Selama setengah dari periode, korupsi dan penurunan moral pejabat menyebabkan masalah lebih lanjut.

Pada akhir abad ke-18, tekanan dari luar mulai menjadi isu penting, ketika bangsa Rusia untuk pertama kalinya mencoba menjalin hubungan dagang dengan Jepang yang tak ada hasil. Kemudian diikuti oleh bangsa Eropa dan Amerika pada abad ke-19. ini membuat Komodor Perry pada tahun 1853 dan tahun 1854 memaksa pemerintahan Tokugawa untuk membuka beberapa pelabuhannya bagi perdagangan internasional. Bagaimanapun, perdagangan terjadi dengan amat terbatas hingga Pemulihan Meiji tahun 1868.

Semua faktor berhubungan, perasaan anti-pemerintah meningkat dan menyebabkan gerakan lain seperti tuntutan untuk mengembalikan kekuasaan kekaisaran dan perasaan anti Barat, khususnya diantara samurai konservatif pada daerah yang independen seperti Chosu dan Satsuma. Banyak orang, bagaimanapun, segera menyadari keuntungan besar bangsa Barat dalam hal sains dan militer, dan ingin membuka diri sepenuhnya terhadap dunia luar. Akhirnya, golongan konservatf menyadari fakta tersebut setelah beberapa kali melakukan perlawanan terhadap kapal perang bangsa Barat.

Tahun 1867-1868, pemerintahan Tokugawa jatuh karena tekanan politik yang berat, dan kekuasaan Kaisar Meiji di kembalikan.

Pemulihan Meiji

Tahun 1867/68, masa Tokugawa berakhir dengan adanya Pemulihan Meiji. Kaisar Meiji pindah dari Kyoto ke Edo (yang berganti nama menjadi Tokyo) dan kemudian menjadi ibukota yang baru; kekuasaan kekaisaran kemudian dipulihkan. Kekuatan politik sesungguhnya berpindah dari Bakufu Tokugawa ke tangan sekelompok kecil bangsawan dan mantan samurai.

Seperti negara jajahan lain di Asia, orang-orang Jepang dipaksa menyaksikan ancaman kekuatan dari negara Barat. Ancaman ini menjadikan orang-orang Barat mendapatkan keuntungan sepihak atas ekonomi dan hukum. Dalam rangka untuk mendapatkan kemandirian dari bangsa Eropa dan Amerika, juga untuk membangun citra dari dunia, Meiji memutuskan untuk menutup perbedaan dengan bangsa Barat dalam hal kekuatan dan ekonomi. Pembaharuan praktis secara drastis diberlakukan di semua wilayah.

Pemerintah yang baru ingin menjadikan Jepang sebuah negeri yang demokratis dan setara bagi semua rakyatnya. Belenggu antar kelas sosial yang terjadi pada masa Tokugawa dihapuskan. Pada akibatnya, samurai menjadi kaum yang terpinggirkan dalam pembaharuan sosial tersebut karena kehilangan hak istimewanya. Pembaharuan juga meliputi pengakuan hak azasi manusia seperti kebebasan beragama pada tahun 1873.

Dalam rangka menstabilkan pemerintahan, mantan penguasa tanah (Daimyo) diwajibkan untuk mengembalikan tanah mereka kepada Kaisar. Hal tersebut terjadi pada tahun 1870 dan diikuti dengan membagi negara kedalam perfektur-perfektur.

Sistem pendidikan diubah mengikuti sistem Perancis, lalu mengikuti sistem Jerman. Diantara pembaharuan itu adalah diberlakukannya wajib belajar.

Setelah sekitar satu atau dua dekade dilakukan pem-Barat-an yang intensif, kebangkitan pemikiran konservatif dan nasional membuahkan hasil: prinsip Konfisius dan Shinto termasuk kesetiaan pada kaisar meningkat pesat dan diajarkan pada lembaga pendidikan.

Peningkatan dalam bidang militer tentu saja menjadi prioritas utama Jepang ditengah imperialisme bangsa Eropa dan Amerika. Wajib militer diberlakukan, angkatan yang baru mengikuti model pasukan Prusia, dan angkatan laut dibentuk mengikuti model Inggris.

Dengan tujuan untuk mengubah ekonomi berbasis pangan pada era Tokugawa menjadi berbasis industri, banyak sarjana Jepang yang dikirim keluar negeri untuk mempelajari ilmu dan bahasa bangsa Barat, sementara ahli dari luar negeri menjadi pengajar di Jepang. Jaringan transportasi dan komunikasi dikembangkan dengan biaya yang besar dari pemerintah Jepang. Pemerintah juga secara langsung mendukung bisnis-bisnis dan industri-industri yang menjanjikan, khususnya industri keluarga yang besar dan kuat yang dinamakan Zaibatsu.

Banyaknya pengeluaran mengakibatkan krisis keuangan pada pertengahan 1880-an yang didikuti oleh perubahan sistem mata uang dan pembangunan Bank Jepang. Industri tekstil berkembang pesat dan menjadi industri terbesar hingga Perang Dunia II.

Pada bidang politik, Jepang membentuk sistem konstitusi gaya Eropa pada tahun 1889. Parlemen, Diet dibentuk sementara Kaisar masih menjadi penguasa tertinggi: Kaisar adalah memegang angkatan darat, angkatan laut, kekuatan eksekutif dan legislatif. Partai politik belum memperoleh kekuatan yang berarti dikarenakan kekurangan anggota.

Konflik yang disebabkan oleh ketertarikan Jepang dan Cina terhadap Korea mengakibatkan Perang Sino-Jepang pada tahun 1894-1895. Jepang mengalahkan Cina, merebut Taiwan, tapi dipaksa oleh Rusia, Perancis, dan Jerman untuk mengembalikan wilayah lain. Intervensi Tiga Arah ini membuat Jepang memperkuat angkatan darat dan lautnya.

Konflik yang disebabkan ketertarikan Jepang terhadap Korea dan Manchuria, kali ini dengan Rusia, mengakibatkan perang Ruso-Jepang tahun 1904-1905. pasukan jepang memenangkan perang tersebut dan akhirnya mendapakan pengakuan internasional. Jepang terus menanamkan pengaruhnya di Korea dan menguasai sepenuhnya pada tahun 1910. Di Jepang, kesuksesan perang mengakibatkan rasa nasionalisme meningkat, dan negara-negara Asia lainnya juga mulai membangun kepercayaan diri.

Tahun 1912, Kaisar Meiji meninggal.

Jepng dan Perang Dunia I

Selama masa kaisar Taisho (1912-1926) yang lemah, kekuatan politik bergeser dari persekutuan oligarki (Genro) kepada parelemen dan partai politik.

Dalam Perang Dunia I, Jepang tergabung dalam pasukan Sekutu, tapi hanya memainkan peranan kecil dalam pertempuran melawan pasukan kolonial Jerman di Asia Timur. Dalam Konferensi Perdamaian Paris tahun 1919, usulan Jepang mengenai “persamaan ras” pada hadirin Liga Bangsa-Bangsa ditolak oleh Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. Arogansi dan diskriminasi ras menyebabkan ketegangan dalam hubungan Jepang-Barat sejak dibukanya negara tahun 1880-an, dan menjadi faktor utama dalam memperburuk hubungan selama PD II. Tahun 1924, misalnya, Kongres AS mengeluarkan Perintah Pengusiran yang melarang imigran dari Jepang datang lebih banyak lagi.

Setelah PD I, ekonomi Jepang memburuk. Gempa Besar Kanto dan depresi dunia tahun 1929 menambah krisis.

Selama tahun 1930-an, militer hampir sepenuhnya menguasai pemerintahan. Banyak lawan-lawan politik yang terbunuh, dan komunis diburu. Doktrinisasi dan penyensoran dalam pendidikan menjadi lebih intensif. Pejabat angkatan darat dan laut segera mengisi posisi-posisi penting, termasuk menjadi perdana menteri.

Jepang mengikuti contoh negara Barat dan memaksa Cina pada perjanjian ekonomi dan politik yang tak adil. Lebih lanjut, pengaruh Jepang atas Manchuria berkembang sejak akhir Perang Ruso-Jepang tahun 1904-1905. ketika nasionalis Cina mulai secara serius mengancam posisi Jepang di Manchuria tahun 1931, Tentara Kwantung (angkatan bersenjata Jepang di Manchuria) menduduki Manchuria. Tahun berikutnya, “Manchukuo” mendeklarasikan diri sebagai negara merdeka, dikendalikan oleh Tentara Kwantung melalui pemerintahan boneka. Tahun yang sama, angkatan udara Jepang membombardir Shanghai dengan tujuan melindungi penduduk Jepang dari gerakan Anti-Jepang.

Tahun 1933, Jepang dikeluarkan dari Liga Bangsa-Bangsa karena kritikan yang tajam atas tindakannya kepada Cina.

Juli 1937, Perang Sino-Jepang Kedua pecah. Sebuah insiden kecil menjadikannya perang berskala penuh dengan Tentara Kwantung yang bertindak lebih independen dari pemerintahan yang lebih moderat. Pasukan Jepang berhasil menduduki hampir semua pantai Cina dan melakukan kekejaman perang pada penduduk Cina, khususnya selama kejatuhan ibukota Nanking. Namun, pemerintah Cina tak pernah menyerah sepenuhnya, dan perang berlanjut dengan skala lebih kecil hingga tahun 1945.

Tahun 1940, Jepang menduduki Indocina Perancis (Vietnam) atas kesepakatan dengan pemerintah Perancis, dan bergabung dengan Jerman dan Italia. Langkah ini mempertajam konflik antara Jepang dengan Amerika Serikat dan Inggris Raya yang bertindak dengan melakukan aksi boikot minyak. Karena kekurangan minyak dan gagal memecahkannya menggunakan langkah diplomasi membuat Jepang memutuskan untuk merebut wilayah kaya minyak Hindia Belanda Timur (Indonesia) dan memulai peperangan dengan Amerika Serikat dan Inggris Raya.

Desember 1941, Jepang menyerang pasukan Sekutu di Pearl Harbour dan beberapa titik lain di Pasifik. Jepang berhasil melebarkan kekuasaannya untuk wilayah yang luas yang terbentang dari India di Barat dan New Guinea di Selatan dalam waktu enam bulan.

Titik balik perang pasifik adalah pertempuran Midway pada bulan Juni 1942. dari situ, pasukan Sekutu secara perlahan merebut kembali wilayah yang diduduki Jepang. Tahun 1944, serangan udara yang intesif dilakukan terhadap Jepang. Musim semi 1945, pasukan AS merebut Okinawa dalam salah satu perang paling berdarah.

27 Juli 1945, pasukan Sekutu meminta Jepang dalam Deklarasi Postdam untuk menyerah tanpa syarat, atau penghancuran akan terus dilakukan. Bagaimana pun, pasukan militer tidak berniat untuk menyerah dengan kondisi apapun, bahkan setelah militer AS menjatuhkan dua bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus, dan Uni Soviet memulai peperangan dengan Jepang pada tanggal 8 Agustus.

Baru pada 14 Agustus 1945, bagaimana pun, Kaisar Showa akhirnya memutuskan untuk menyerah tanpa syarat.

Jepang setelah perang

Setelah Perang Dunia II berakhir, Jepang luluh lantak. Semua kota besar (kecuali Kyoto), industri dan jaringan transportasi rusak berat. Pembagian jatah pangan ketat dilakukan selama beberapa tahun.

Pendudukan Jepang oleh Sekutu dimulai tahun 1945 dan berakhir 1952. Jenderal MacArthur merupakan panglima tertinggi pertamanya. Seluruh operasi dilakukan oleh Amerika Serikat.

Jepang pada dasarnya kehilangan semua wilayah yang didapatkan setelah 1894. sebagai tambahan, pulau Kuril diduduki oleh Uni Soviet, dan kepulauan Ryukyu, termasuk Okinawa, dikendalikan oleh AS. Okinawa dikembalikan pada Jepang tahun 1972, bagaimana pun perebutan wilayah dengan Rusia menyangkut pulau Kuril belum dapat diselesaikan.

Mesin perang Jepang yang tersisa dihancurkan, dan pengadilan kejahatan perang diadakan. Lebih dari 500 pejabat militer melakukan bunuh diri segera setelah Jepang menyerah, dan sebanyak ribuan lainnya dieksekusi berkaitan dengan kejahatan perang. Kaisar Showa tidak didakwa sebagai penjahat perang.

Konstitusi yang baru menjadi efektif pada tahun 1947: Kaisar kehilangan semua kekuatan militer dan politik, dan hanya menjadi simbol negara. Hak pilih universal diperkenalkan dan hak azasi manusia diakui. Jepang juga dilarang untuk mengadakan perang lagi atau membentuk tentara. Lebih lanjut, Shinto dan negara benar-benar dipisahkan.

MacArthur juga memutuskan untuk memecah kekuatan dengan cara memisah-misahkan Zaibatsu dan perusahaan-perusahaan besar lainnya, dan dengan desentralisasi sistem pendidikan dan kepolisian. Dalam bidang tanah, konsentrasi kepemilikan tanah dipindahkan.

Khususnya dalam setengah pertama masa pendudukan, media Jepang menjadi sasaran penyensoran dari pernyataan-pernyataan anti-Amerika dan topik kontroversial seperti isu ras.

Kerjasama antara Jepang dan Sekutu berjalan relatif lancar. Kritik mulai tumbuh ketika Amerika Serikat bertindak berlebihan berkaitan dengan ketertarikannya dalam Perang Dingin, melakukan pengamatan kembali terhadap komunisme, membawa pasukan lebih banyak ke Jepang, dan meminta Jepang untuk membentuk Pasukan Bela Diri sendiri meskipun itu berlawanan dengan pasal dalam konstitusi. Banyak aspek masa pendudukan yang disebut “arus balik” diterima oleh politisi-politisi Jepang yang konservatif.

Dengan terjadinya kedamaian nyata pada tahun 1952, pendudukan berakhir. Pasukan Bela Diri Jepang dibentuk tahun 1954, didukung oleh demonstrasi massa yang besar. Keresahan masyarakat yang besar juga disebabkan oleh perjanjian kerjasama keamanan Jepang-AS pada tahun 1960.

Setelah perang Korea, dan dipercepat oleh hal tersebut, perbaikan ekonomi Jepang berkembang. Pertumbuhan ekonomi meningkatkan standar hidup, mengubah kehidupan masyarakat dan stabilisasi berada ditangan Partai Demokratis Liberal (LDP), juga polusi yang kuat.

Hubungan dengan Uni Soviet membaik pada tahun 1956, dengan Cina tahun 1972.

Tahun 1973 krisis minyak mengguncang ekonomi Jepang yang sangat tergantung pada minyak. Reaksi atas hal itu adalah berpindahnya menuju industri teknologi tinggi.

diterjemahkan dari http://www.japan-guide.com

 

keadaan jepang sebelum dan sesudah pembukaan negara

Filed under: sejarah jepang — Tangguh Alamsyah @ 6:02 am

A. Keadaan Jepang Sebelum Pembukaan Negara
pada abad ke-19 telah timbul perasaan tidak puas terhadap pemerintahan Tokugawa( Bakufu) disebabkan karena keuangan Bakufu semakinm menipis sebagai akibat adanya politik pintu tertutup (sakoku) oleh Tokugawa demi mencapai keamanan dalam negeri. Dengan tercapainya kemanan yang panjang, maka perekonomian menjadi berkembang, dengan golongan pedagang sebagai pusatnya. Hal ini melahirkan kebudayaan pedagang : Ukiyo-E, Kabuki, Haiku, dll yang amat digemari saat itu. Para pejabat Bakufu menjadi hidup bermewah-mewahan, yang mengakibatkan menipisnya keuangan. Akhirnya terjadi bahaya kelaparan dan gerakan pengrusakan rumah-rumah para pedagang oleh petani.
Untuk mengendalikan keadaan dalam negeri, pemerintah mengambil tindakan-tindakan pembaharuan. Pembaharuan Tenpo mengatur hal-hal sebagai berikut:
1. mengawasi kemewahan
2. melarang orang-orang meninggalkan desa
3. mengharuskan para petani kembali dan bekerja di desanya.

Namun pembaharuan ini tak sesuai dengan yang diharapkan. Ketidakberhasilan ini memperlemah kedudukan Bakufu dimata masyarakat, sehingga melahirkan ajaran Tokugawa (Ajaran Nasionalisme) yang mempelajari keseusasteraan klasik dan moral orang-orang Jepang jaman dulu. Kemudian perasaan tidak puas terhadap Tokugawa semakin bertambah dan membuat kekacauan di dalam negeri. Selain itu kejadian-kejadian luar negeri mulai mengancam Jepang.

B. Keadaan di Asia

Pada tahun 1825, pemerintahan Bakufu mengeluarkan peraturan untuk mengusir kapal-kapal asing dari Jepang (ikokusen uchiharairei).
Pada paruh pertama abad ke-19 terjadi Revolusi Industri di Inggris. Inggris kemudian mencari negara sebagai pangsa pasar hasil industrinya. Inggris mengembangkan kekuasaaannya ke negara-negara Asia, dan berhasil menguasai India. Tahun 1840 mereka berusaha menjul candu pada China. Akan tetapi China menolaknya. Akhirnya terjadilah Perang Candu. China mengalami kekalahan. Kekalahan China membuat pemimpin-pemimpin Jepang cemas,  mereka takut akan diperlakukan seperti China oleh Inggris.
Tapi setelah mereka mengetahui China dikalahkan oleh Inggris, maka peraturan tersebut diperlemah, kapal-kapal tertentu diperbolehkan untuk berlabuh di perairan Jepang.
Tahun 1853, Komodor Mathew C. Perry, utusan Angkatan Laut Amerika tiba di Uraga dengan membawa surat dari Presiden Amerika Serikat. Mereka meminta Jepang untuk membuka negaranya dan menuntut diadakannya hubungan perdagangan. Selain itu, Perry menambahkan sepucuk surat dari dia sendiri. Jika “pendekatan yang santun dan damai” ini tidak segera diterima, demikian bunyi surat itu, ia akan kembali untuk mendapat jawaban pada musim semi yang akan datang, dan kali ini akan datang “dengan kekuatan yang jauh lebih besar”
Sesuai dengan janjinya, Perry kembali dengan delapan kapal pada awal tahun 1854. dalam selang waktu itu para pementu kebijakan di Edo telah mengadakan musyawarah dengan para penguasa feodal Jepang. Hasilnya tidak banyak membantu. Sebagian kecil mengatakan bahwa tuntutan yang menghina itu harus ditolak, jika perlu dengan perang, karena telah menginjak-injak kehormatan Bakufu. Sebagian kecil yang lainnya berpendapat JEpang harus mengulur waktu, jika perlu dengan berkompromi. Penguluran waktu itu bisa digunakan oleh Jepoang untuk mempelajari sistem persenjataan modern dan mempersiapkan negeri untuk berperang. Namun sebagian besar penguasa yang lainya tidak memberikan pendapat secara jelas. Mereka terus saja bebicara mengenai kewajiban mereka yang ditentukan oleh “hukum nenek moyang” atau imbauan tentang perdamaian. Tanpa menjelaskan bagaimana cara menjalankan “hukum nenek moyang” atau mewujudkan perdamaian.
Dihadapkan pada keadaan tak menentu, Abe Masahiro, memutuskan untuk menerima sebagian besar usul Perry.
Maret tahun 1854, Dibawah todongan empat buah kapal hitam (kurofune), Jepang terpaksa menandatangani perjanjian yang dinamakan Nichibei Washin Joyaku (Perjanjian Kanagawa). Yang isinya:
1. akan terciptanya suatu perdamaian yang nyata, permanen, dan menyeluruh, serta persahabatan yang tulus dan sesungguhnya antara Amerika Serikat dan Kekaisaran Jepang.
2. pelabuhan Shimoda dan Hakodate dijamin oleh JEpang sebagai pelabuhan yang dapat dimasuki kapal-kapal Amerika.
3. apabila kapal Amerika Serikat terdampar atau mendapat kecelakaan di pantai Jepang, kapal Jepang harus menolong mereka dan membawa awaknya ke Shimoda dan Hakodate.
4. Konsul Jenderal dibuka di Shimoda.

Dalam perjanjian ini tidak ada pasal mengenai hak berdagang Amerika. Inilah satu-satunya kemenangan diplomatik Edo.
Meski hasil perundingan mengenai perdagangan mengecewakan, perjanjian itu mendorong pihak-pihak lain untuk juga mendapat hal serupa. Pedagang Belanda berhasil mendapat persyaratan yang lebih baik untuk perdagangan mereka di Deshima. Para pejabat Inggris di pantai China, kerena merasa seua yang telah diperoleh sejauh ini belum memadai, mulai membuat rencana untuk mengadakan perjanjian yang “seharusnya” dengan Jepang. Demikian pula dengan konsul baru Amerika di Shimoda, Towsen Harris, yang tiba pada bulan September 1856.
Pada titik ini hubungan Jepang dengan barat kembali menjadi berkaitan dengan hubungannya dengan China. Menjelang akhir 1856, ketika Perang Krimea usai, perseteruan bersenjata baru, yang dipicu oleh perselisiahn di bidang perdagangan, pecah antara China di satu pihak, dan perancis serta Inggris di pihak lain. Canton direbut, kekuatan besar Inggris-Perancis dihimpun untuk bertempur di utara. Wakil-wakil Belanda dan Amerika di Jepang menerangkan dengan sejelas-jelasnya bahwa jika pasukan Inggis-Perancis berhasil di China, maka tak akan diragukan lagi hal yang sama akan dilakukan kepada Jepang. Bakufu tak mungkin dapat melakukan perlawanan yang efektif. Maka satu-satunya cara adalah dengan mengadakan perjanjian dagang dengan negara-negara yang tak terlalu banyak menuntut, untuk kemudian digunakan sebagai model perjanjian bagi negara lainnya.
Jepang kemudian melakukan perjanjian dengan negara negara tersebut, hanya saja Jepang masih mempertahankan tariff bea cukai yang tinggi serta hak Bakufu untuk campur tangan. Townsend Harris, seorang bekas usahawan, sangat tidak puas dengan perjanjian demikian. Dia kemudian mengusulkan rumusan yang lain, yang lebih sejalan dengan tuntutan Perancis dan Inggris terhadap Peking.
Bukan hal yang gampang untuk mendapat persetujuan Edo mengenai rumusn tersebut. Namun dia tetap bertahan. Dia terus meyakinkan Jepang mengenai ancaman yang pasti akan dilakukan oleh Inggris. Pada akhir Febuari 1858, perjajian itu ditandatangani Jepang oleh Ii Naosuke tanpa persetujuan kaisar. Hal ini mengakibatkan kemarahan orang-orang yang setia terhadap kaisar. Isi perjanjiannya meliputi:
1. pajak atau cukai akan dibayar kepada pemerintah Jepang dari barang-barang buatan Jepang yang  di ekspor sebagai muatan sesuai dengan tariff yang disepakati bersama.
2. jika tawaran diterima oleh pemilik, maka harga penjualan akan dibayarkan kepadanya segera dan tidak mengalami pemotongan apapun.
3. barang-barang untuk kebutuhan kapal Amerika dapat dibongkar dan ditumpuk didalam gudang dan tidak wajib membayar cukai.
4. akan tatapi jika barang tersebut dijual di Jepang, maka penjual harus membayar pajak cukai kepada penguasa-penguasa Jepang.
5. pemasukan candu dilarang. Kapal Amerika yang hendak berdagang candu lebih dari 3 kali beratnya, maka kelebihan tersebut akan dikuasai dan dimusnahkan oleh pejabat-pejabat Jepang.

Selain itu, perjanjian ini juga berisi:
1. orang Amerika yang berbuat kesalahan kepada orang Jepang harus diadili di pengedilan konsulat Amerika, dan jika bersalah harus dihukum dengan undang-undang Amerika.
2. orang Jepang yang memiliki kesalahan kepada Amerika diadili oleh pejabat Jepang, dan dihukum oleh undang-undang Jepang.
3. pengadilan Amerika akan terbuka bagi orang-orang Jepang yang mempuyai hutang dan memungkinkan untuk memperoleh ganti rugi terhadap tuntutan-tuntutan mereka yang adil.
4. pengadilan Jepang akan terbuka bagi orang Amerika yang menginginkan ganti rugi yang adil terhadap orang-orang Jepang.
5. Pemerintah Amerika dan Jepang tidak dapat dipertanggungjawabkan untuk pembayaranyang dilakukan oleh warganya masing-masing.

Pemenjaraan Massal Ansei (Ansei no Taigoku)
Karena Perjanjian yang ditandatangani oleh Ii Naosuke tanpa persetujuan kaisar, maka ada perlawanan  dari orang-orang yang setia pada kaisar terhadap Ii Naosuke, pada tahun 1859, Ii Naosuke menahan orang-orang istana, bangsawan, pengikut yang setia pada kaisar, dan orang-orang yang mempelajari Pengetahuan Barat. Semuanya dijebloskan kedalam penjara dan dihukum mati. Peristiwa ini disebut Ansei no Taigoku.
Pada bulan Maret 1860, Ii Naosuke dibunuh di pintu Skurada di istana Edo. Maret tahun berikutnya, sebuah serangan pada waktu malam atas kantor perwakilan Inggris meninggalkan korban dua orang staf yang menderita luka-luka dan beberapa samurai yang tewas.
Tahun 1863, pasukan Inggris menyerang Kagoshima sebagai balasan kepada pembunuhan orang-orang Inggris oleh orang-orang setsuma, dan juga kapal-kapal perang Inggris, Perancis, dan Belanda telah menembaki Shimonoseki sebagai balasan yang dilakukan oleh orang-orang Chosu keatas kapal-kapal pedagang asing. Dengan demikian perasaan antia sing semakin hebat dan ditambah lagi perjanjian dengan orang Jepang itu telah ditandatangani tanpa persetujuan kaisar. Kebencian terhadap Bakufu makin bertambah dan melahirkan gerakan-gerakan diseluruh negeri dengan slogan sonno joi (kehormatan bagi Kaisar, usir orang biadab) dan Tobaku (jatuhkan Bakufu).

 

Zaman Meiji

Filed under: sejarah jepang — Tangguh Alamsyah @ 5:57 am

Modernisasi pada zaman Meiji ditinjau dari segi pencerahan pemikiran adalah kesadaran akan adanya serba keterbelakangan akibat terkungkungnya kebebasan berpikir, bertindak, dan berpendapat sebagian besar lapisan masyarakat sebagai akibat ketatnya aturan-aturan yang bersifat diskriminatif. Kehidupan diskriminatif yang disebabkan oleh stuktur kelas sosial yang ketat, struktur politik yang monolitik dan monopolitik melahirkan kelompok-kelompok sosial dan elite politik yang menginginkan perubahan.
Bagi elite kelas samurai, tidak berkutiknya Bakufu menghadapi todongan meriam empat buah Kapal Hitam (Kurofune) menyadarkan mereka bahwa Jepang kalah dan amat tertinggal dalam perkembangan ilmu dan teknologi, dibandingkan dengan negara-negara Barat yang telah mengadakan revolusi industri pengetahuan dan industri. Hal ini merupakan ancaman bagi Jepang.
Hal ini melahirkan kelompok shishi, atau “orang yang bersemangat tinggi”. Mereka menganggap bahwa Bakufu telah gagal dalam menjalankan fungsinya sebagai penguasa. Bakufu  telah mengadakan perjanjian-perjanjian dengan negara-negara Barat yang dinilai tidak adil dan sudah merendahkan martabat rakyat Jepang karena isi dan cara tuntutan-tuntutan yang dikemukakan.
Untuk membalas penghinaan itu, para elite samurai berpendapat bahwa senjata Barat harus dilawan dengan senjata Barat, hukum-hukum Barat harus dipatahkan dengan hukum-hukum Barat, dan kekuasaan negeri Jepang harus dikembalikan kepada penguasa Jepang yang sesungguhnya, Tenno.
Mutsuhito Meiji yang masih muda baru saja naik tahta; berhasil dibujuk untuk memberikan persetujuan atas rencana pengggulingan kekuasaan Tokugawa.
Dini hari tanggal 3 Januari 1868, pintu-pintu istana raja berhasil direbut dari tangan Tokugawa.. Sebuah dewan dibentuk, anggota-anggotanya dipilih dengan saksama; sebuah dekrit disepakati, yang mencabut jabatan Shogun dan menyita semua tanah miliknya; dan tanggung jawab langsung atas pemerintah nasional diletakkan kembali atas pundak Tenno.
Dalam arti yang sebenarnya, inilah Pemulihan Meiji (ôsei-fukko), suatu pengukuhan kembali hak-hak istimewa keluarga penguasa dari zaman kuno itu.

MEIJI ISHIN
Setelah kekuasaan kembali ke Tenno, Tenno segera mengeluarkan perintah untuk mengadakan pembaharuan dalam segala bidang. Perintah/aba-aba ini disebut Meiji Ishin. Pada tahun 1868 dikeluarkan sebuah dekrit yang disebut Gokajo No Go Seimon. Yang isinya:
1. Segala sesuatu dibicarakan secara musyawarah, dan keputusan ditetapkan atas hasil musyawarah bersama.
2. Golongan atas dan bawah harus bekerja sama, melaksanakan pemerintahan dan pendapat yang obyektif.
3. Baik pegawai negeri maupun militer dan seluruh rakyat, sama-sama mempunyai hak untuk dapat mencapai kesuksesan dan kebahagiaan menurut kemampuan masing-masing dan menghapuskan perasan tidak senang dan putus asa pada seluruh rakyat.
4. Kebiasaan-kebiasaan yang buruk dari dulu sampai sekarang harus dihapus dan segala sesuatu harus berjjalan berdasarkan kebenaran secara nasional.
5. Mengambil segala ilmu dari seluruh dunia, dan berbakti untuk kemuliaan dan kebesaran Tenno.

HANSEKI HOKKAN
Untuk mencapai tujuan slogan Pemulihan Meiji, yaitu Fukoku Kyokei (memperkaya dan memperkuat negara) dan Bunmei Kaika (memajukan peradaban), maka Kaisar Meiji melakukan usaha-usaha sebagai berikut:

Bidang politik dan keamanan
1869 # Bulan Maret, istana raja dipindahkan dari Kyoto ke Edo, dan diberi nama baru Tokyo (ibu kota Timur), dan disitu benteng Shogun  menjadi istana Raja.
# Bulan Juli, Para penguasa Feodal diperintahan untuk menyerahkan tanah (Han) dan rakyat mereka pada Tenno. Daimyo kemudian diangkat sebagai gubernur (Kenchô) untuk wilayah yang diserahkannya.
1871 # Bulan Agustus. Semua bekas Daimyo diundang untuk menghadap Tenno. Mereka diberi tahu bahwa semua wilayah akan dibagi menjadi perfektur (Ken), dan dikendalikan dari pusat menurut gaya pemerintahan Cina.
# Bulan September. Semua pasukan, selain pasukan yang setia pada Tenno, dibubarkan. Dan semua mantan samurai tetap mendapat tunjangan.
# Pengadilan Wilayah dibentuk.
1873 # Bulan Januari. undang-undang wajib militer diberlakukan. Yaitu, warga laki-laki berusia 20 tahun, telepas dari asal usul sosial, akan dipanggil untuk  mempertahankan negara selama 3 tahun, diikuti kemudian dengan tugas sebagai prajurit cadangan selama 4 tahun.
# Bulan Juli. undang-undang pajak tanah diumumkan.
1875    Pengadilan Tinggi dibentuk.
1885    Bulan Desember.  Dibentuk kabinet gaya Barat, menggantikan Dewan Negara.
1888 # Bulan April. Dibentuk Dewan Penasihat, yang terdiri dari pejabat-pejabat senior yang saat itu tidak memangku jabatan, dan dapat dimintai pendapat oleh Tenno mengenai persoalan-persoalan hukum dan Konstitusi.
# Bulan Mei. Rancangan Undang-undang Dasar diajukan pada Dewan Penasihat.
1889    11 Febuari. Undang-undang Dasar Negara Jepang diumumkan Oleh Tenno di Istana.

Bidang pendidikan
1872    Undang-undang Pendidikan diumumkan. Anak-anak dari usia enam tahun akan bersekolah selama 16 bulan. Kurikulumnya sebagian besar kurikulum Barat. Menggunakan buku-buku pelajaran Barat terjemahan.
1872    Sekolah Guru didirikan.
1881    Sekolah Menengah didirikan
1886 # Masa pendidikan wajib menjadi 4 tahun. Dilaksanakan dengan pengawasan dan sangsi yang ketat
# Sekolah Menengah Atas didirikan ( Tahun 1894, namanya berubah menjadi Sekolah Atas)
# Akademi Konfusius dan lembaga kajian Barat yang didirikan Bakufu, digabung menjadi universitas, dirombak menjadi Universitas Kerajaan Tokyo.
1889 # Sekolah Atas untuk anak perempuan didirikan.
# Masa Pendidikan Dasar menjadi 8 tahun, dengan 4 tahun merupakan pendidikan wajib.
1890    Dikeluarkan Dekrit Pendidikan. Yang mendesak agar kesetiaan dan hormat kepada orang tua, plus hormat kepada undang-undang dasar dan hukum, dijadikan inti dari sistem pendidikan.
1903    Didirikan universitas di Kyoto, Sendai, Nagoya, Fukuoka.

Bidang industri
1871 # Didirikan kantor pos di Tokyo dan Osaka
# Dibuat jaringan telepon pertama antara Tokyo dan Osaka
1872     Didirikan pabrik pemintalan, pabrik alat perang, dibangun rel kereta api antara Shibashi dan Yokohama sejauh 18 mil.

NISHIN SENSO (Perang Jepang – Cina 1894-1895)
Sebab-sebabnya :
1.  Sudah sejak lama Korea bergantung pada Cina, tetapi kemudian pengaruh Jepang terhadap Korea makin bertambah.
2. Didalam negeri Korea terdapat dua golongan yang bertentangan; yaitu golongan Progresif yang menghendaki diadakannya modernisasi, golongan ini didukung oleh Jepang; dan golongan Konservatif yang berpihak pada Cina yang ingin mempertahankan kebiasaan tradisional.
3. Tahun 1882, golongan konservatif mengadakan pemberontakan, yang disebut sebagai peristiwa Jingo atau peristiwa Seoul. Tahun 1884 golongan progresif mengadakan kudeta yang dibantu oleh Jepang, namun gerakan ini gagal. Kemudian diadakan perjanjian Tienshin, yang isinya, baik Cina maupun Jepang harus menarik tentaranya dari Korea.
4. Tahun 1894, di Korea terjadi pemberontakan para petani menuntut perubahan di Korea. Pemerintah Korea meminta bantuan Cina. Golongan progresif meminta bantuan Jepang.
Sebuah pasukan  dikirim dan mendarat di Korea. Sukses segera diperolehnya, tidak saja ketika melawan pasukan Korea, tetapi juga ketika berhadapan dengan pasukan Cina. Dalam waktu kurang dari setahun Korea diduduki, dan Cina meminta damai.
Setelah Cina mengalami kekalahan, maka diadakan perjanjian Shimonoseki pada bulan April 1895. Syarat-syarat yang diajukan Jepang kepada Cina sangat keras, meliputi:
1. Cina harus mencabut semua kekuasaannya atas wilayah Korea.
2. Cina harus membayar ganti rugi hasil rampasan perang dalam bentuk emas, sebanyak 300 juta Yen.
3. Cina harus menyerahkan Taiwan dan semenanjung Liaotung kepada Jepang
4. Cina harus menandatangani perjanjian perdagangan, yang menempatkan Jepang pada jajaran yang sama dengan negara-negara Barat dalam perdagangan luar negeri Cina.
Namun ternyata pasal mengenai Liaotung tidak bisa dilaksanakan. Dalam waktu beberapa pekan saja Rusia, didukung oleh Jerman dan Perancis, menuntut agar semenanjung itu dikembalikan kepada Cina, dengan alasan bahwa bila semenanjung itu berada di tangan Jepang, akan mengganggu keseimbangan kekuatan di wilayah itu.
Sebagai akibat dari perang Jepang – Cina ini, maka Jepang diakui oleh negara-negara Barat sebagai negara kuat.

Jepang sebagai negara industri.
Setelah perang Jepang – Cina, maka Jepang mempunyai pasaran yang luas, terutama ke Korea dan Cina. Mula-mula Jepang memusatkan industrinya pada industri tekstil, lalu besi dan senjata. Sejak itulah perindustrian Jepang makin maju, hingga dapat menguasai pasaran dunia.

Perang Jepang-Rusia (1904 – 1905)
Rusia, setelah mengambil alih hak sewa Liaotung pada tahun 1898, mendapat konsesi pertambangan di Manchuria, dan hak membangun jalan kereta api yang menghubungkan Wladiwostok dan Liaotung ke jalan kereta api Trans-Siberia. Setelah pemberontakan Boxer pada tahun 1899 di Cina, Jepang mengirimkan tentaranya ke Cina untuk melindungi perwakilannya di Shantung, dan Rusia masuk ke Manchuria untuk melindungi kepentingan Rusia. Jepang khawatir dengan pemusatan kekuasaan Rusia di Manchuria akan mengancam kekuaasaan Jepang atas Korea. Bulan Januari 1902, Jepang menandatangani perjanjian persekutuan dengan Inggris, yang isinya untuk saling membantu bila salah satu negara mengadakan perang dengan negara lain. Tokyo memutuskan untuk mengambil langkah perang dengan Rusia.
Bulan Febuari 1904 bala tentara Jepang mendarat di Korea.bergerak cepat ke utara, menyeberangi Sungai Yulu, memasuki Liaotung, dan mengepung Port Arthur dan Wladiwostok. Pertempuran hebat terjadi selama setahun. Dengan Jepang sebagai pemenangnya.
Bulan Agustus 1905, melalui Amerika Serikat sebagai penengah, diadakan perundingan perdamaian di Portsmouth, New Hampshire. Yang isinya:
1. Kekuasaan Jepang di Korea diakui.
2. Hak sewa Liaotung dialihkan pada Jepang, bersama hak Rusia atas pertambangan di wilayah itu dan kereta api yang menghubungkan Port Arthur ke Harbin
3. Pulau Sakhalin (Kuril) diserahkan kembali kepada Jepang

Jepang sebagai negara imperialis
Dengan kemenangan Jepang atas Rusia ini, maka kedudukan Jepang di mata internasional makin tinggi. Karena perindustrian makin maju dan banyak pengusaha-pengusaha yang makin besar, maka Jepang mulai mengarah ke kapitalisme.
Timbul perusahaan-perusahaan besar seperti Mitsubishi, Mitsui, Sumimoto, yang disebut perusahaan Zeibatsu (konglomerat). Golongan ini tidak hanya menguasai perekonomian, tetapi juga politik dan keamanan. Karena negara-negara Eropa sedang mengalami perang, maka ekspornya terhenti. Ini kesempatan yang baik bagi Jepang untuk menguasai pasaran di Asia. Penghidupan bertambah baik, maka pertambahan penduduk sangat cepat, sehingga Jepang menjadi negara yang mempunyai Man Power yang tinggi.
Saat Perang Dunia I pecah tahun 1914. sejalan dengan persekutuan Jepang – Inggris, Jepang menyatakan perang melawan Jerman. Pemerintah Jepang mengerahkan pasukan untuk mengambil alih wilayah pengaruh Jerman di Shantung. Hal ini ternyata membuahkan hasil dengan direbutnya kepulauan Caroline dan Tsiangtao dari tangan Jerman.
Pada tahun 1915, Jepang mengajukan tuntutan 21 pasal (twenty one demands) kepada Cina. Dalam tuntutan ini, Jepang mendesak agar segala kepentingan Jerman di semenanjung Shantung dioperkan kepada Jepang; Jepang memperluas hak-hak khusus mengenai kereta api di Manchuria dan Mongolia; Jepang menempatkan penasihat di ibu kota Cina (yang tidak lebih dari hak untuk turut campur dalam politik dalam negeri Cina); Cina diwajibkan untuk “tidak menyerahkan atau menyewakan kepada kekuasaan manapun pelabuhan atau teluk atau pulau di sepanjang pantai Cina”; bersama dengan tuntutan-tuntutan lain yang banyak menimbulkan selisih paham dan permusuhan dari rakyat Cina kepada Jepang.
Dua Puluh satu tuntutan ini sama saja dengan menjadikan Cina sebagai Proteokrat Jepang.

 

peristiwa zaman Edo – Heisei

Filed under: sejarah jepang — Tangguh Alamsyah @ 5:48 am

(more…)

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.